2.1    Landasan Pengembangan Kurikulum

  1. a.         Landasan Filosofis

Berbicara mengenai filsafat berarti berbicara pula mengenai upaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang komprehensif dan sistematis tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya. Sama halnya dengan pendidikan yang berhubungan erat dengan kehidupan, filsafat pun berhubungan erat dengan filsafat pendidikan. Donald Butler (1957) menjelaskan filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap praktek pendidikan, kemudian praktek pendidikan memberikan bahan terhadap pertimbangan filsafat.

Dalam pengembangannya, kurikulum senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu, sehingga akan memberikan warna terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan tersebut. Menurut Ella Yulaelawati (2003), aliran-aliran filsafat tersebut antara lain sebagai berikut:

1)        Perenialisme; merupakan aliran filsafat yang menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran, dan keindahan daripada warisan budaya dan dampak sosial. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kegiatan sehari-hari kurang diperhatikan. Pendidikan yang menganut aliran filsafat ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidak terikat, baik oleh tempat maupun waktu. Aliran filsafat ini lebih berorientasi pada masa lalu.

2)        Esensialisme; merupakan aliran filsafat yang menekankan pada pentingnya pemberian pengetahuan dan keterampilan serta pewarisan budaya pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bermanfaat. Matematika, Sains, dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar substansi kurikulum yang berharga di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, esesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.

3)        Eksistensialisme; merupakan aliran filsafat yang menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan maknanya. Untuk memahami hidup dan maknanya tersebut, seseorang harus bisa memahami dirinya sendiri.

4)        Progresivisme, merupakan aliran filsafat yang menekankan pada pentingnya pelayanan perbedaan individual dan berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar, dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan pembelajaran peserta didik aktif.

5)        Rekonstruktivisme; merupakan elaborasi lanjut dari progresivisme. Pada aliran filsafat ini, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Namun, di samping menekankan pada pelayanan perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme juga menekankan pada pemecahan masalah, pemikiran kritis, dan sebagainya. Aliran filsafat ini lebih menekankan pada hasil belajar daripada proses.

  1. b.        Landasan Psikologis

Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan dua bidang psikologi dalam pengembangan kurikulum, yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Psikologi perkembangan mengkaji hakekat perkembangan, tahap perkembangan, aspek perkembangan, tugas perkembangan individu, dan hal lainnya yang berhubungan dengan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan dasar pengembangan kurikulum. Sedangkan, psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari perilaku individu dalam konteks belajar melalui proses peniruan, pelatihan, penerapan, pembiasaan, pengingatan, pemahaman, dan sebagainya. Psikologi belajar mengkaji hakekat belajar, aspek belajar, dan hal lainnya yang berhubungan dengan perilaku individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan dasar pengembangan kurikulum.

Sehubungan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan lima tipe kompetensi, yaitu:

1)        Motif; merupakan sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berpikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.

2)        Bawaan; merupakan karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi dan informasi.

3)        Konsep diri; merupakan tingkah laku, nilai, atau imej seseorang.

4)        Pengetahuan; merupakan informasi khusus yang dimiliki seseorang.

5)        Keterampilan; merupakan kemampuan untuk melakukan tugas, baik secara fisik maupun mental.

Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan pendidikan. Pengetahuan dan keterampilan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang. Sedangkan, konsep diri, bawaan, dan motif lebih tersembunyi dan mendalam. Pengetahuan dan keterampilan lebih mudah untuk dikembangkan. Pelatihan merupakan hal yang tepat untuk mengembangkan kompetensi ini. Sebaliknya, konsep diri, bawaan, dan motif lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.

  1. c.         Landasan Sosial-Budaya

Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan, sehingga kurikulum sangat menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Perlu diingat pula, pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Maksudnya, pendidikan memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk hidup, bekerja, dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.

Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan, baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, tidak diharapkan munculnya manusia-manusia yang terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru diharapkan munculnya manusia-manusia yang dapat mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, kekayaan, karakteristik, dan perkembangan yang ada dalam masyakarakat.

Setiap lingkungan masyarakat pasti memiliki sistem sosial-budaya masing-masing yang mengatur pola kehidupan dan hubungan antaranggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial-budaya adalah tatanan nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para anggota masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik, atau segi kehidupan lainnya. Kemudian, sejalan dengan perkembangan masyarakat, maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat tersebut juga turut berkembang, sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat tersebut.

Sebagaimana dikutip oleh Nana Syaodih Sukmadinata, Israel Scheffer mengemukakan bahwa melalui pendidikan, manusia dapat mengenal peradaban masa lalu, kemudian turut serta dalam peradaban masa kini, dan membuat peradaban masa depan yang akan datang. Dengan demikian, pengembangan kurikulum sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons, dan berlandaskan pada perkembangan sosial – budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional, maupun global.

  1. d.        Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana. Namun, sejak abad pertengahan, ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan ke depannya akan terus semakin berkembang. Hal tersebut membuktikan bahwa akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin, bahkan mustahil.

Cepatnya kemajuan dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasawarsa terakhir ini telah berpengaruh pada peradaban manusia. Pengaruh ini dapat dilihat pada pergeseran tatanan politik, ekonomi, dan sosial yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran-pemikiran, dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks lokal dan global. Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berpikir dan belajar tentang bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian..

Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, sehingga peserta didik dapat mengimbangi sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidupnya.

 

2.2    Pendekatan Pengembangan Kurikulum

  1. a.         Pendekatan Bidang Studi

Pendekatan ini menggunakan bidang studi atau mata pelajaran sebagai dasar pengembangan kurikulum, misalnya Matematika, Sains, dan sebagainya seperti yang lazim didapati dalam sistem pendidikan Indonesia masa kini, baik di sekolah maupun universitas. Yang diutamakan dalam pendekatan ini ialah penguasaan bahan dan proses dalam disiplin ilmu tertentu. Pendekatan ini paling mudah dibandingkan dengan pendekatan lainnya karena telah jelas batasan disiplin ilmunya, sehingga lebih mudah untuk mempertanggungjawabkan apa yang diajarkan.

  1. b.        Pendekatan Interdisipliner

1)        Pendekatan Broad-field

Pendekatan ini berusaha mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran yang saling berkaitan agar peserta didik dalam memahami ilmu pengetahuan tidak berada dalam vakum atau kehampaan, akan tetapi memahaminya sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Pendekatan ini juga digunakan agar peserta didik memahami hubungan yang kompleks antara kejadian-kejadian di dunia, misalnya hubungan antara perang Vietnam dan Korea dengan kebangkitan ekonomi Jepang dan lain-lain.

2)        Pendekatan Kurikulum Inti

Pendekatan ini banyak persamaannya dengan broad-field, karena juga mengintegrasikan beberapa disiplin ilmu yang saling berkaitan. Dalam pendekatan ini, kurikulum diberikan berdasarkan suatu masalah sosial atau personal. Untuk memecahkan masalah tersebut, digunakan bahan dari beberapa disiplin ilmu yang saling berkaitan dengan masalah tersebut.

3)        Pendekatan Kurikulum Inti di Perguruan Tinggi

Istilah inti juga digunakan di Perguruan Tinggi. Istilah tersebut dimaksudkan sebagai pengetahuan inti yang pokok yang diambil dari semua disiplin ilmu yang dianggap esensial mengenai ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang dianggap layak dimiliki oleh tiap orang terdidik dan terpelajar.

4)        Pendekatan Fusi

Kurikulum ini men-fusi-kan atau menyatukan dua atau lebih disiplin tradisional menjadi studi baru, misalnya geografi, botani, dan arkeologi menjadi earth sciences.

  1. c.         Pendekatan Rekonstruksionisme

Pendekatan ini juga disebut pendekatan Rekonstruksi Sosial karena memfokuskan kurikulum pada masalah-masalah penting yang dihadapi dalam masyarakat, seperti ledakan penduduk, polusi, dan lain-lain. Dalam pendekatan ini, terdapat dua kelompok utama yang sangat berbeda pandangannya tentang kurikulum, yaitu:

1)        Rekonstruksionisme Konservatif; aliran ini menginginkan agar pendidikan ditujukan pada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian terhadap masalah-masalah yang paling mendesak yang tengah dihadapi masyarakat. Peranan pendidik disini adalah sebagai orang yang menganjurkan perubahan dan mendorong peserta didik menjadi partisipan aktif dalam masyarakat.

2)        Rekonstruksionisme Radikal; aliran ini berpendapat bahwa banyak negara mengadakan pembangunan dengan merugikan rakyat kecil yang miskin yang merupakan mayoritas masyarakat. Golongan radikal ini menganjurkan agar pendidik formal maupun non-formal untuk mengabdikan diri demi tercapainya orde sosial baru berdasarkan pembagian kekuasaan dan kekayaan yang lebih adil dan merata.

  1. d.        Pendekatan Humanistik

Pendekatan ini berpusat pada siswa dan mengutamakan perkembangan efektif siswa sebagai prasyarat dan bagian integral dari proses belajar. Para pendidik humanistik yakin bahwa kesejahteraan mental dan emosional siswa harus dipandang sentral dalam kurikulum agar belajar itu memberikan hasil yang maksimal.

Pendekatan humanistik dalam pengembangan kurikulum didasarkan atas asumsi-asumsi sebagai berikut:

1)        Siswa akan lebih giat belajar dan bekerja bila harga dirinya dikembangkan sepenuhnya.

2)        Siswa yang diturutsertakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pelajaran akan merasa  bertanggung jawab atas keberhasilannya.

3)        Hasil belajar akan meningkat dalam suasana belajar yang diliputi oleh rasa saling mempercayai, saling membantu, dan bebas dari ketegangan yang berlebihan.

4)        Guru yang berperan sebagai fasilitator belajar memberi tanggung jawab kepada siswa atas kegiatan belajarnya.

5)        Kepedulian siswa akan pelajaran memegang peranan penting dalam penguasaan bahan pelajaran itu.

6)        Evaluasi diri merupakan bagian penting dalam proses belajar yang memupuk rasa harga diri.

  1. e.         Pendekatan Akuntabilitas

Akuntabilitas atau pertanggungjawaban lembaga pendidikan tentang pelaksanaan tugasnya kepada masyarakat, akhir-akhir ini tampil sebagai pengaruh yang penting dalam dunia pendidikan. Akuntabilitas yang sistematis pertama kali diperkenalkan oleh Frederick Taylor dalam bidang industri pada permulaan abad ini. Pendekatannya -yang kelak dikenal sebagai scientific management atau manajemen ilmiah- menetapkan tugas-tugas spesifik yang harus diselesaikan oleh pendidik dalam kurun waktu tertentu.

  1. f.          Pendekatan Pembangunan Nasional

Pendekatan ini mengandung tiga unsur, yaitu:

1)        Pendidikan kewarganegaraan

Dalam masyarakat demokratis, warga negara dapat dimasukkan ke dalam tiga kategori, yaitu (a) warga negara yang apatis, (b) warga negara yang aktif, dan (c) warga negara yang pasif.

2)        Pendidikan sebagai alat pembangunan nasional

Tujuan pendidikan ini adalah mempersiapkan tenaga kerja yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan nasional. Para pengembang kurikulum bertugas untuk mendesain program yang sesuai dengan analisis jabatan yang akan diduduki.

3)        Pendidikan keterampilan praktis bagi kehidupan sehari-hari

Keterampilan yang diperlukan bagi kehidupan sehari- hari dapat dibagi ke dalam beberapa kategori yang tidak hanya bercorak keterampilan, akan tetapi juga mengandung aspek pengetahuan dan sikap, yaitu:

a)        Keterampilan untuk mencari nafkah dalam rangka sistem ekonomi suatu negara.

b)        Keterampilan untuk mengembangkan masyarakat.

c)        Keterampilan untuk menyumbang kepada kesejahteraan umum.

d)       Keterampilan untuk menjadi warga negara yang baik.

2.3    Model Pengembangan Kurikulum

  1. a.         The Adminstrative Model

Model ini merupakan model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling banyak digunakan. Gagasan pengembangan kurikulum datang dari para administrator pendidikan dengan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, para administrator pendidikan membentuk suatu Komisi atau Tim Pengarah pengembangan kurikulum yang terdiri dari para pejabat di bawahnya, para ahli pendidikan, para ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan. Tugas tim ini adalah merumuskan landasan-landasan, konsep-konsep dasar, kebijaksanaan, dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Selanjutnya, para administrator pendidikan membentuk Tim Kerja pengembangan kurikulum yang terdiri dari para ahli pendidikan, para ahli kurikulum, para ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan para guru senior. Tugas tim ini adalah menyusun kurikulum dan menjabarkan konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh Komisi atau Tim Pengarah, seperti merumuskan tujuan-tujuan, memilih sekuens materi, memilih strategi pembelajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan kurikulum bagi para guru. Kemudian, setelah Tim Kerja selesai melaksanakan tugasnya, hasilnya dikaji ulang oleh Komisi atau Tim Pengarah beserta para ahli lain yang berwenang atau pejabat yang kompeten. Setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan dan dinilai telah cukup baik, barulah administrator pendidikan menetapkan pemberlakuan kurikulum tersebut. Adapun, dalam pelaksanaannya, diperlukan adanya monitoring, controlling, dan directing serta evaluating.

  1. b.        The Grass Root Model

Model ini merupakan lawan dari model pertama. Model ini digunakan dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi, sehingga inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum bukan datang dari atas, tetapi dari bawah, yaitu dari para guru atau sekolah. Dan apabila kondisinya memungkinkan -kemampuan para guru, biaya, fasilitas, dan bahan kepustakaan- pengembangan kurikulum dengan menggunakan model the grass root ini tampaknya akan lebih baik. Hal tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu akan kebutuhan kelasnya. Oleh karena itu, dialah yang paling kompeten dalam mengembangkan kurikulum bagi kelasnya.

Adapun, model ini juga memungkinkan terjadinya kompetisi dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif. Kendati demikian, agar pengembangan kurikulum dapat berjalan efektif, tentunya harus ditopang oleh kesiapan sumber daya, terutama Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia di sekolah.

2.4    Komponen Pengembangan Kurikulum

  1. a.         Tujuan

Dalam perspektif pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Kemudian, dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2007, dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan sebagai berikut:

1)        Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

2)        Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

3)        Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.

4)        Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler, yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.

Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional, yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran. Tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik (aspek kognitif, afektif, dan psikomotor) apa yang hendak dicapai oleh peserta didik melalui proses pembelajaran. Dari keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini, akan menentukan keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya.

Terlepas dari rangkaian tujuan di atas, perumusan tujuan kurikulum sangat berkaitan erat dengan filsafat yang melandasinya. Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan aliran filsafat klasik (perenialisme, esensialisme, dan eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya, maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau kognitif. Sedangkan, apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan progresivisme sebagai pijakan utamanya, maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik serta lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. Sementara, apabila kurikulum dikembangkan menggunakan rekonsktruktivisme sebagai pijakan utamanya, maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. Kemudian, apabila kurikulum dikembangkan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis, maka tujuan pendidikan lebih banyak diarahkan pada pencapaian kompetensi.

  1. b.        Isi atau Materi Pembelajaran

Dalam menentukan isi atau materi pembelajaran, tidak lepas pula dari filsafat dan teori pendidikan. Seperti yang telah dikemukakan di atas, bahwa pengembangan kurikulum yang didasari aliran filsafat klasik (perenialisme, esensialisme, dan eksistensialisme), maka  penguasaan isi atau materi pembelajaran menjadi hal yang utama. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis dalam bentuk sebagai berikut:

1)        Teori; merupakan seperangkat konstruk atau konsep, definisi atau preposisi yang saling berhubungan, yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut.

2)        Konsep; merupakan suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususan-kekhususan. Konsep juga merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala.

3)        Generalisasi; merupakan kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus, bersumber dari analisis, pendapat, atau pembuktian dalam penelitian.

4)        Prinsip; merupakan ide utama atau pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep.

5)        Prosedur; merupakan seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik.

6)        Fakta; merupakan sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting, yang terdiri dari terminologi, orang, dan tempat serta kejadian.

7)        Istilah; merupakan kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi.

8)        Contoh atau ilustrasi; merupakan hal, tindakan, atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.

9)        Definisi; merupakan penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal atau kata dalam garis besarnya.

10)    Preposis; merupakan cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.

Adapun, Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakan tentang sekuens susunan isi atau materi pembelajaran sebagai berikut:

1)        Sekuens kronologis; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.

2)        Sekuens kausal; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.

3)        Sekuens struktural; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang mengandung struktur materi.

4)        Sekuens logis; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang dimulai dari bagian-bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana menuju pada yang kompleks.

5)        Sekuens psikologis; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang dimulai dari keseluruhan menuju pada bagian-bagian, dari yang kompleks menuju pada yang sederhana.

6)        Sekuens spiral; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana, kemudian dikembangkan, diperdalam, dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks.

7)        Sekuens berdasarkan hierarki belajar; merupakan susunan isi atau materi pembelajaran yang dimulai dari menganalisis tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai, kemudian dicari suatu hierarki urutan isi atau materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik, berturut-berturut sampai dengan perilaku yang terakhir.

  1. c.         Metode atau Strategi Pembelajaran

Metode atau strategi pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal, seperti ceramah atau seminar, sehingga menyebabkan proses pembelajaran cenderung bersifat tekstual. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut sangat ditolak oleh kalangan progresivisme. Menurut kalangan ini, yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Prose pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tersebut kemudian mendapatkan dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pada pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. Dengan demikian, proses pembelajaran kini cenderung bersifat kontekstual dan metode atau strategi pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru, melainkan bersifat individual, langsung, dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif), seperti diskusi, simulasi, observasi, dan sebagainya.

  1. d.        Organisasi Kurikulum

Pada umumnya, terdapat enam ragam organisasi kurikulum, yaitu:

1)        Isolated Subject; kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kemampuan peserta didik. Semua materi diberikan sama.

2)        Corelated Subject; korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat dari isolated subject. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu.

3)        Broad-field Subject; merupakan organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan kemudian dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran.

4)        Child Centered Program; merupakan kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik, bukan pada mata pelajaran.

5)        Core Program; merupakan organisasi kurikulum yang berupa unit-unit masalah, yang dimana masalah-masalah tersebut diambil dari suatu mata pelajaran tertentu, kemudian mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalah-masalah tersebut. Mata pelajaran yang menjadi pisau analisis tersebut diberikan secara terintegrasi.

6)        Ecletic Program; merupakan organisasi kurikulum yang mencari keseimbangan antara mata pelajaran dengan kegiatan peserta didik.

  1. e.         Evaluasi Kurikulum

Dalam pengertian sempit, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian dari tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sedangkan, dalam pengertian luas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja, namun juga relevansi, efisiensi, dan kelaikan (feabilitas) program. Evaluasi kurikulum memegang peranan yang penting, baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. Hasil-hasil evaluasi kurikulum tersebut dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum tersebut juga dapat digunakan oleh para guru, para kepala sekolah, dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik, memilih bahan pelajaran, memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.

 

2.5    Prinsip Pengembangan Kurikulum

  1. a.         Prinsip Umum Pengembangan Kurikulum

1)        Prinsip relevansi; secara internal, kurikulum memiliki relevansi di antara komponen-komponen kurikulum (tujuan, bahan, strategi, organisasi dan evaluasi). Sedangkan secara eksternal, komponen-komponen kurikulum tersebut memiliki relevansi dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi (relevansi epistomologis), tuntutan potensi peserta didik (relevansi psikologis), serta tuntutan kebutuhan perkembangan masyarakat (relevansi sosiologis).

2)        Prinsip fleksibilitas; kurikulum memiliki sifat luwes, lentur, dan fleksibel dalam pelaksanaannya, sehingga memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta latar belakang dan kemampuan peserta didik.

3)        Prinsip kontinuitas; maksudnya ada kesinambungan dalam kurikulum, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan oleh kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antarjenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.

4)        Prinsip efisiensi; maksudnya mengusahakan agar dalam pengembangan kurikulum, dapat didayagunakan waktu, biaya, dan sumber-sumber lain yang ada secara optimal, cermat, dan tepat, sehingga hasilnya akan memadai.

5)        Prinsip efektivitas; maksudnya mengusahakan agar kegiatan pengembangan kurikulum mencapai tujuan tanpa ada kegiatan yang mubazir, baik secara kualitas maupun kuantitas.

  1. b.        Prinsip Khusus Pengembangan Kurikulum

1)        Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan; meliputi (a) ketentuan atau kebijakan pemerintah, (b) survei persepsi para orang tua, (c) survei persepsi para ahli, (d) pengalaman negara lain, dan (e) penelitian.

2)        Prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan; meliputi (a) penjabaran tujuan ke dalam bentuk pengalaman belajar yang diharapkan, (b) isi meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, dan (c) disusun berdasarkan urutan logis dan sistematis.

3)        Prinsip berkenaan dengan  pemilihan proses belajar-mengajar; meliputi (a) keselarasan pemilihan metode, (b) memperhatikan perbedaan individual, dan (c) pencapaian aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

4)        Prinsip berkenaan dengan pemilihan media; meliputi (a) ketersediaan alat yang sesuai dengan situasi, (b) pengorganisasian alat dan bahan, dan (c) pengintegrasian ke dalam proses.

5)        Prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian; meliputi (a) kesesuaian dengan isi dan tingkat perkembangan siswa, (b) waktu, dan (c) administrasi penilaian.

DAFTAR PUSTAKA

Nursidik, Yahya. 2008. Komponen dan Prinsip Pengembangan Kurikulum. apadefinisinya.blogspot.com. Diakses 19 Maret 2010.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Landasan Kurikulum. akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses 19 Maret 2010.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Model Pengembangan Kurikulum. akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses 19 Maret 2010.

Sudrajat, Akhmad. 2008. Prinsip Pengembangan Kurikulum. akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses 19 Maret 2010.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.